BERITA

Alasan Mengapa Gelar Haji Hanya Ada Di Indonesia

Masyarakat Indonesia cenderung mengira bahwa orang yang sudah menunaikan ibadah haji berarti mempunyai pemahaman agama yang lebih dalam serta berakhlak lebih baik dibandingkan orang yang belum berhaji. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Secara bahasa saja, gelar haji tidak dapat diterjemahkan sebagai sebutan bagi ulama. Orang yang alim atau ulama adalah mereka yang dijadikan teladan oleh masyarakat karena memahami  syariat Islam.

Ulama pun ini memiliki sebutan yang berlainan di tiap-tiap daerah, contohnya Kiyai di daerah Jawa, Ajengan di Tanah Sunda, Teungku/Tengku di Aceh, Syeikh di Sumatera Utara/Tapanuli, Buya untuk tanah Minangkabau, Tuan Guru di Nusa Tenggara dan Kalimantan, dan lain-lain.

 
Ustaz Miftah el-Banjary, pakar Ilmu Linguistik Arab lulusan Cairo-Mesir, menjelaskan tentang gelar haji ini mulai dilakukan sejak pemerintahan kolonial Belanda. Pada waktu itu perjalanan ibadah haji dinilai mempunyai kekuatan politis dan harus diawasi karena dapat memicu gerakan politik yang membuat Belanda sangat waspada.

Mereka yang baru saja pulang dari menunaikan rukun Islam ke-6 itu kerap dianggap orang alim oleh masyarakat di Jawa dan Belanda khawatir akan pengaruh politis dari aktivitas religious tersebut. Mereka yang sudah haji akan lebih dituruti perkataannya oleh orang awam dan ini memicu pemerintah Belanda menetapkan aturan ketat.

Masih menurut Ustaz Miftah, di tahun 1859 masyarakat Indonesia yang ingin berhaji boleh berangkat dengan paspor haji gratis, namun mereka harus mempunyai bukti mempunyai dana untuk biaya pulang dan pergi serta meninggalkan biaya hidup bagi keluarga selama yang bersangkutan beribadah haji.

Snouck Hurgronje lalu datang ke Indonesia di tahun 1889 dan mengritik peraturan haji yang ditetapkan pada tahun 1859 tersebut. Menurut Snouck, pemerintah Belanda tak perlu khawatir akan jamaah haji yang pulang dari tanah suci karena kecil sekali peluangnya untuk melakukan maker.

Di tahun 1902 akhirnya peraturan diubah terutama yang berkaitan dengan ujian untuk penggunaan gelar serta pakaian haji. Tapi pengawasan terhadap jamaah Indonesia yang selesai menunaikan ibadah haji menjadi semakin ketat.


Ustaz Miftah melanjutkan, bahwa dari latar belakang sejarah, gelar haji diadakan sebenarnya adalah strategi politik colonial. Mereka berupaya memberi atribut politik bagi orang-orang Islam sepulang dari tanah suci. Tujuannya adalah untuk membatasi gerakan politik mereka melawan penjajahan.

Agus Sunyoto, seorang Arkeolog Islam Indonesia, berpendapat bahwa penggunaan gelar Haji mulai digunakan di tanah air di tahun 1916. Inilah sebabnya kita tidak mendapati gelar tersebut pada para pahlawan seperti Pangeran Diponegoro dan Kiai Haji Mojo misalnya, padahal tentu saja mereka sudah menunaikan ibadah haji?

Kiai-kiai di masa lalu tidak disebut haji karena ibadah tersebut memang kewajiban bagi umat Islam yang mampu. Gelar tersebut dimulai sejak pemberontakan umat Islam terhadap penjajah Belanda. Hal ini senada dengan pernyataan Ustaz Miftah

Tiap kali terjadi perlawanan para sponsornya selalu 3 unsur, yaitu guru thariqah, ulama pesantren, serta para haji. Inilah konon yang membuat pemerintah Belanda kewalahan. Demikian menurut Agus Sunyoto sebagaimana yang pernah dipublikasikan pada NU Online.

Selain itu Belanda juga jengkel dengan para haji ini karena pemberontakan kerap terjadi setiap kali ada penduduk muslim di tanah air pulang dari Makkah. Inilah sebabnya Belanda menetapkan Ordonansi Haji, atau kewajiban menggunakan gelar ‘Haji’ setiap kali selesai menjalankan ibadah tersebut sebagai penanda agar mereka diawasi ketat.

Setelah masa pemerintahan Belanda usai di Indonesia sebutan gelar ‘Haji’ justru kian populer di kalangan masyarakat muslim Indonesia. Hal ini terus dilakukan secara turun-temurun sampai hari ini sebutan ‘Haji’ menjadi semakin akrab di telinga. Uniknya negara-negara jiran bahkan turut mengikuti kebiasaan tersebut seperti Thailand Selatan, Brunei Darussalam, serta Malaysia tentunya.

Tags: 

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*